Kebanyakan orang memilih SSD dari satu angka: kecepatan baca berurutan. Angka itu yang dicetak paling besar di kotaknya, biasanya sesuatu seperti “7.000 MB/s”.
Untuk kerja kreatif, angka itu hampir tidak berarti apa-apa.
Anda tidak menghabiskan hari kerja membaca satu berkas 100 GB secara berurutan. Anda menyalin ratusan klip, melakukan render yang menulis terus-menerus selama dua puluh menit, dan membuka proyek yang isinya ribuan berkas kecil. Tiga pola itu diuji oleh angka yang berbeda — dan angka itu jarang dicetak di kotaknya.
Ini hal terpenting yang perlu dipahami, dan yang paling jarang dijelaskan penjual.
Hampir semua SSD konsumen menyisihkan sebagian kapasitasnya sebagai cache berkecepatan tinggi. Selama Anda menulis dalam jumlah yang muat di cache itu, drive terasa sangat cepat. Begitu cache penuh, kecepatan tulis jatuh — kadang dari 6.000 MB/s ke 400 MB/s, kadang lebih rendah lagi.
Untuk menyalin satu folder foto, Anda tidak akan pernah menyentuh tebing itu. Untuk mengekspor video satu jam, Anda akan menabraknya, dan sisa render berjalan di kecepatan yang jauh lebih lambat.
Yang perlu Anda cari namanya sustained write atau kecepatan tulis berkelanjutan. Angka ini jarang ada di halaman produk, tapi hampir selalu ada di ulasan teknis yang menjalankan tes tulis panjang. Cari grafik yang sumbu horizontalnya durasi, bukan angka tunggal.
Jenis memori menentukan seberapa curam tebing tadi.
TLC menyimpan tiga bit per sel. QLC menyimpan empat. Semakin banyak bit per sel, semakin murah per gigabyte, tapi semakin lambat penulisan aslinya dan semakin pendek umur selnya.
Untuk arsip yang jarang ditulis ulang — perpustakaan foto lama, backup — QLC masuk akal dan menghemat uang. Untuk drive kerja yang setiap hari menerima puluhan gigabyte, TLC hampir selalu pilihan yang benar, dan selisih harganya akan Anda lupakan dalam sebulan.
Masalahnya, banyak produsen tidak mencantumkan jenis NAND di halaman produk. Kalau tidak disebut, asumsikan QLC.
SSD perlu menyimpan peta lokasi data. Drive kelas atas menyimpan peta itu di chip DRAM tersendiri. Drive murah tidak punya DRAM dan menumpang sebagian RAM komputer lewat mekanisme bernama HMB.
Untuk penggunaan ringan, perbedaannya nyaris tak terasa. Untuk beban kerja dengan banyak berkas kecil — dan proyek editing adalah contoh sempurna — drive tanpa DRAM terasa tersendat saat drive mulai penuh.
Aturan praktisnya: kalau drive itu akan jadi tempat proyek aktif, cari yang punya DRAM. Kalau cuma untuk menyimpan hasil akhir, tanpa DRAM tidak masalah.
SSD PCIe generasi terbaru menghasilkan panas yang cukup untuk memicu proteksi termal. Ketika itu terjadi, drive sengaja memperlambat diri untuk menghindari kerusakan.
Artinya drive tercepat di atas kertas bisa jadi lebih lambat dalam praktik kalau tidak punya pendinginan memadai. Di laptop tipis, ini bukan kemungkinan — ini hampir pasti.
Kalau motherboard Anda punya heatsink M.2 bawaan, pakai. Kalau tidak, heatsink terpisah harganya jauh lebih murah daripada naik satu tingkat model.
Dan pertimbangkan ini dengan jujur: untuk banyak pekerjaan editing, PCIe generasi lebih lama yang tetap dingin memberi hasil akhir lebih konsisten daripada generasi terbaru yang tersendat setiap sepuluh menit.
TBW — terabytes written — adalah jumlah data yang dijamin bisa ditulis sebelum garansi habis.
Angka ini sering dipakai menakut-nakuti. Hitung sendiri sebelum panik: kalau Anda menulis 50 GB per hari setiap hari, itu sekitar 18 TB setahun. Drive 1 TB kelas menengah biasanya punya TBW ratusan terabyte.
Untuk sebagian besar orang, drive akan usang sebelum selnya habis. TBW baru benar-benar relevan kalau Anda menjalankan basis data yang menulis terus-menerus, atau merekam video sepanjang hari.
SSD melambat ketika hampir penuh, dan cache SLC yang tadi dibahas menyusut seiring ruang kosong berkurang. Drive 1 TB yang terisi 95 persen berperilaku sangat berbeda dari drive yang sama saat terisi separuh.
Sisakan sekitar 20 persen kosong. Artinya, kalau kebutuhan Anda 800 GB, belilah 1 TB — bukan karena kemurahan hati, tapi karena itu syarat agar drive bekerja seperti yang dijanjikan.
Kalau semua ini terasa banyak, susun keputusannya begini.
Mulai dari kapasitas — tambahkan 25 persen dari kebutuhan hari ini. Lalu pastikan TLC, bukan QLC, kalau drive akan sering ditulis. Lalu pastikan ada DRAM kalau drive itu untuk proyek aktif. Lalu cari ulasan yang menampilkan grafik tulis berkelanjutan, bukan angka puncak. Baru terakhir, kalau anggaran masih sisa, naikkan generasi PCIe.
Empat langkah pertama menentukan pengalaman harian Anda. Langkah kelima menentukan angka di kotaknya.
Tulisan ini membahas prinsip teknis yang berlaku lintas merek dan generasi. Kami sengaja tidak menyebut model atau harga tertentu — keduanya berubah cepat, dan rekomendasi produk sebaiknya datang dari pengujian langsung, bukan dari spesifikasi di atas kertas.